Kajian Al Quran : Mengenal Fungsi Sebagai Hudan, Syifa, Rahmat, Mauidzoh dan Dzikro
- Pesantren Karanganyar
- Feb 1
- 4 min read

Fungsi Al Quran Sebagai Hudan
Fungsi hudan yaitu memberi tahukan bahwa dalam kehidupan ini ada dua jalan/sistem hidup, yaitu jalan/sistem hidup Islami dan jalan/sistem hidup Jahili.
Jalan/sistem Islami yaitu jalan/sistem hidup yang ditempuh oleh orang mu’min dan jalan/sistem hidup yang bengkok yaitu jalan/sistem yang ditempuh ditempuh oleh orang kafir dan munafik.
Tentang adanya dua sistem hidup itu sebagaimana firman Allah di bawah ini:
وَهَدَيْنَهُ النَّجْدَيْن
“Dan Kami menunjukinya dua jalan”. (90:10)
Memfungsikannya sebagaai huda, dengan aplikasinya menempuh sistem hidup yang lurus yaitu shiratal Mustaqim.
Sebagaiman firman Allah di bawah ini:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadaku ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelummya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (AlQuran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan AlQuran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus”. (42:52).
Fungsi Al-Quran sebagai Syifa dan Rahmat
Al-Quran adalah sebagai obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah.
Firman Allah menyebutkan:
وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً
Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al Isra’ [17]: 82).
Ibnu Katsir menguraikan bahwa Allah mengabarkan tentang Kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu Al-Qur`an, yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya baik dari sisi depan maupun belakang, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Bahwa sesungguhnya Al-Quran itu merupakan penyembuh dan rahmat bagi kaum mukminin, yaitu menghilangkan segala hal berupa keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan penyelisihan yang terdapat dalam hati. Al-Quran-lah yang menyembuhkan itu semua.
Di samping itu, Al-Quran merupakan rahmat yang dengannya membuahkan keimanan, hikmah, mencari kebaikan dan mendorong untuk melakukannya. Hal ini tidaklah didapatkan kecuali oleh orang yang mengimani, membenarkan, serta mengikutinya. Bagi orang yang seperti ini, Al-Quran akan menjadi penyembuh dan rahmat.
Adapun bagi orang kafir yang menzalimi dirinya sendiri, maka tatkala mendengarkan Al-Quran tidaklah bertambah baginya melainkan semakin jauh dan semakin kufur. Dan sebab ini ada pada orang kafir itu, bukan pada Al-Qurannya.
Fungsi Al-Quran sebagai Mauidhoh
Kata mau‘izhah diterjemahkan secara beragam oleh para ilmuan. Hartmut Bobzin menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jerman dengan istilah Mahnung (peringatan) (Bobzin, Der Koran, h. 182). Pengertian semacam ini juga didapati dalam terjemahan Departemen Agama RI (saat ini: Kementerian Agama RI) (Depag, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 315). Sementara itu, Abdel Haleem menerjemahknannya ke dalam Bahasa Inggris dengan ‘teaching’ (pengajaran) (Abdel Haleem, The Qur’an, h. 132).
Hal senada ditemukan pada karya M Quraish Shihab (Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya, h. 215). Variasi terjemahan di atas dapat dilacak pada sumber-sumber tafsir yang mungkin dijadikan rujukan oleh mereka. Mau‘izhah dengan arti ‘peringatan’ ditemukan, misalnya, pada penafsiran Al-Thabari yang mendefinisikan kata itu dengan ‘dzikra tudzakkirukum ‘iqab Allah wa-tukhawwifukum wa‘idahu’ (peringatan yang dapat mengingatkan kamu tentang siksaan Allah dan membuat kamu takut dari ancaman-Nya) (al-Thabari, Jami‘ al-Bayan, 12: 193).
Adapun mau‘izhah dalam arti ‘pengajaran’ dapat dilihat, misalnya, dalam penafsiran Abu Hayyan yang mengelaborasi makna kata itu dengan: tathhir zhawahir al-khalq ‘an ma la yanbaghi (membersihkan sisi lahiriyah makhluk dari hal-hal yang tidak patut) (Abu Hayyan, al-Bahr al-Muhith, 5: 169). Hal ini berarti bahwa Al-Qur’an mengandung ajaran dan tuntunan yang terkait dengan hablun min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablun minannas (hubungan dengan sesama), yang dapat menempatkan manusia pada posisi yang mulia dan dapat membersihkan mereka dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Kedua variasi pemaknaan tersebut pada hakekatnya tidaklah bertentangan antara satu dengan yang lainnya, dan bahkan dapat dikombinasikan, dalam arti bahwa Alquran memberikan pengajaran tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh manusia, dan kemudian ia memberikan peringatan ketika manusia tidak mau mengindahkan ajaran-ajaran Alquran.
Sebagai contoh, dalam hal salat wajib, yang ditetapkan setelah Rasulullah Saw melakukan Israk dan Mikraj kira-kira satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah, Alquran memulai dengan deskripsi dan perintah shalat secara halus. Hal ini terdapat pada QS 4:13: “ … Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.” Pada tahap berikutnya, Alquran dalam banyak ayat memerintahkan umat Islam secara lebih tegas untuk melaksanakan salat dengan sebaik-baiknya. Sebagai misal, QS 2:238 memerintah mereka untuk ‘menjaga/memelihara semua salat dan salat wustha (pertengahan)’. Istiqamah dalam menegakkan shalat itu merupakan salah satu ciri orang beriman (misal, Q.S. 2:3) dan bermalas-malasan dalam mekasanakannya merupakan salah satu ciri orang munafiq (Q.S. 4:142).
Fungsi Al-Quran sebagai Dzikro
Adz Dzikra memiliki arti sebagai peringatan, hal tersebut sudah menjadi sifat Al Qur’an sebagai firman Allah SWT. Al Qur’an sebagai Adz Zikra memiliki arti bahwa sifat Al Qur’an yang akan selalu memberikan peringatan kepada umat manusia dari sifat lupa yang mungkin sudah mendarah daging pada manusia.
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT dengan sifat lupa. Manusia bisa lupa dalam berbagai hal termasuk dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, hubungan antara manusia dengan manusia pun bisa lupa dengan tuntutan-tuntutan yang sudah seharusnya dilakukan oleh manusia.
Oleh karena itu, orang-orang yang beriman senantiasa dituntun untuk menjadikan Al Qur’an sebagai pendamping. Selain membaca dan mengamalkan merupakan ibadah, Al Qur’an juga senantiasa memberikan peringatan kepada manusia mengenai tanggung jawab yang sedang kita emban.
Al Qur’an sebagai Adz Dzikr dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya di dalam Al Qur’an surat Al Hijr ayat 9 yang artinya “Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Adz Zikra (yakni Al Qur’an) dan Kamilah pula yang akan memeliharanya (Al Qur’an)”
Info PSB Pesantren Klik DISINI






Comments