KH. Hasyim Asy’ari "Antara Keteladanan dan Pemikiran"
- Pesantren Karanganyar
- Feb 9
- 6 min read

Hadlratussyeikh Hasyim Asj’ari dilahirkan pada Februari 1871. Ia keturunan Kiai juga, sedang nenek moyangnya berasal dari Demak. Ayahnya bernama Asy’ari, pernah membantu gurunya yang juga menjadi mertuanya (mertua ini bernama Kiai Ustman) di Nggedang, utara Jombang. Hasjim mulai belajar mengaji dengan orangtuanya pada umur enam tahun di Desa Keras, dekat Jombang, tempat ayahnya pindah tahun 1876.
Ketika berumur 15 tahun, ia mulai berpindah-pindah dari pesantren satu ke pesantren lain di Jawa Timur dan Madura. pada 1891 ia belajar di Pesantren Kiai Ya’kub, Sialan Panji di Sidoardjo. Menikah dengan anak gurunya ini 1892 dan pergi ke Mekkah pada tahun ini juga. Sesudah tujuh bulan kemudian istrinya meninggal, dan ia pun kembali ke Indonesia. Tahun berikutnya ia pergi lagi ke Mekkah dan belajar di sana selama tujuh tahun, antara lain dengan Syaikh Ahmad Khatib dari Minangkabau. (Deliar Noer, 1985 : 249)
Baca Juga : Info PSB
Pesantren Tebuireng Pembinaan Bela Diri
Kembali ke Indonesia ia segera membangun pesantren di Tebuireng. Ia mulai dengan tujuh orang murid, yang beberapa bulan kemudian bertambah menjadi dua puluh delapan orang. Lambat laun pengaruhnya meluas, bukan saja santri yang belajar ke tempatnya, malah juga para Kiai. Tiap bulan Sya’ban para Kiai ini mengunjunginya selama sebulan untuk belajar, Sebagai ilustrasi tentang pengakuan terhadap keilmuannya. Dapat disebutkan di sini, mantan gurunya pada tahun 1933 berkunjung ke Tebuireng untuk mendengarkan pelajaran yang ia berikan. (Deliar Noer, 1985 : 249 - 250 )
Ia membangun pesantren ini dengan biaya sendiri, di atas tanah yang dibelinya dari seorang dalang terkenal di daerah itu. Luas bangunan pesantren sekitar sepuluh meter persegi, dan terbagi ke dalam dua bagian : satu bagian untuk ruang belajar para santri dan satu bagian lagi untuk para Kiai yang mengajar di Pesantren ini. Pembiayaan untuk kegiatan pesantren ini sepenuhnya ditangani KH. Hasjim dengan melakukan usaha menggarap pertanian dan mengadakan perdagangan dalam sekala kecil. Hal ini merupakan ciri khas kemandirian Pesantren.
Pada masa-masa awal pendirian pesantrennya, KH. Hasjim harus menghadapi rintangan dan gangguan dari penduduk desa. Orang-orang desa merasa terganggu dengan kebiasaan baru di pesantren tersebut. Mereka bahkan berusaha menggunakan setiap hartanya untuk mengganggu kehidupan para santri, Kiai dan keluarganya. Mereka merusak dinding-dinding bambu bangunan pesantren dengan parang dan mengancam seluruh kehidupan komunitas pesantren. Gangguan-gangguan semacam itulah yang mendorong KH. Hasjim mengadakan pelatihan bela diri terhadap para santrinya dengan mendatangkan para Kiai dari Cirebon yang mahir di bidang bela diri. Gangguan itu berlangsung tidak kurang dari satu setengah tahun. Setelah melewati masa itu, hubungan antara desa dengan pesantren berangsur membaik.
Fenomena itulah yang menjadi isyarat pendirian Pesantren Tebuireng merupakan simbol penentangan langsung terhdap teknologi barat yang membawa dampak buruk terhadap tingkah laku dan pemikiran masyarakat pribumi.
Seorang santri yang baru masuk pesantren tidak segera langsung belajar pada Kiai Hasjim, kecuali ia memang sanggup mengikuti pelajaran KH. Hasjim. Biasanya santri baru belajar lebih dahulu pada santri senior atau asisten Kiai. Apabila santri tersebut dapat membaca dan memahami kitab kuning, ia bisa langsung menyertai kelompok santri lainnya yang langsung mengaji pada Kiai Hasjim.
Pengaruh KH. Hasjim makin meluas, tidak terbatas pada para santri yang belajar di tempatnya, tetapi masyarakat daerah Jawa Timur secara umum.
Banyak para santri yang telah mendapatkan pengetahuan agamanya di pesantren lain, mendaftarkan diri ke Pesantren Tebuireng untuk melanjutkan pendidikannya dibimbing KH. Hasjim Asj’ari. (Kholid O Santosa, 2007 : 22)
Baca Juga : Info PSB
Mencetak Kiai-Kiai Besar di Indonesia
Keberhasilan KH. Hasjim Asj’ari membangun Pesantren Tebuireng bukan saja diukur berdasarkan banyaknya jumlah santri yang menimba ilmu di sana, tetapi juga tingkat keberhasilan para santrinya yang kemudian menjadi kiai dan pemimpin umat. Beberapa nama santri binaan KH. Hasjim yang kemudian menjadi kiai besar diantaranya adalah KH. Wahab Hasbullah salah satu muridnya yang brilian. Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kiai Hasjim, karena mereka mempunyai moyang (diatas kakek) yang sama. Ia terlahir di Jombang pada maret 1988, belajar di Tambakrejo dan Tebuireng. Peserta Pendiri NU, KH. Manaf Abdul Karim, pendiri Pesantren Lirboyo KH.Abbas, pendiri Pesantren Buntet KH. As’ad Sjamsul Arifin, pendiri Pesantren Sukorejo. KH. Haji Maskur, yang berhasil menjadi menteri agama pada masa Demokrasi Liberal, dan KH. Saifudin Zuhri, ulama kenamaan dan pernah menjadi Menteri Urusan Agama selama Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin.
Dari uraian di atas jelas, kehidupan pesantren berpusat pada karisma KH. Hasjim, pengaruhnya tidak terbatas pada wilayahnya tetapi juga ke wilayah-wilayah lainnya. KH. Hasjim sangat dihormati murid-muridnya dan juga masyarakat Islam pada waktu itu bahkan dalam soal sehari-hari pun pendapat dan nasihatnya serta fatwanya sering diminta umatnya, perkataan atau fatwa-fatwanya pada umumnya diikuti masyarakat Islam Indonesia.
Respon Terhadap Pemikiran Pembaharu
Pada waktu berlangsung Kongres Al-Islam ke-4 yang diselenggarakan di Bandung pada Februari 1926, hampir sepenuhnya kongres tersebut dipenuhi para pemimpin organisasi Islam moderen yang pada saat itu memang tengah gencar-gencarnya melakukan pembaruan pemikiran Islam. Mereka merasa seakan mengabaikan usul-usul para pemimpin Islam tradisional yang menghendaki tetap terpeliharanya praktik-praktik keagamaan tradisional. Bagi KH. Hasjim Asj’ari, fenomena praktik keagamaan tradisional perlu dipertahankan, sementara penyandaran praktik keagamaan pada salah satu mazhab juga menjadi keniscayaan bagi umat Islam yang relatif masih awam.
Sebagai jalan keluar untuk melembagakan pemikiran dan praktik keagamaan itulah, pada 31 Januari 1926, KH. Hasjim Asj’ari membentuk Jamiyyah Nahdatul Ulama sebagai wadah perjuangan para ulama. (Saifudin Zuhri 1981 : 608). Tujuan dibentuknya organisasi ini atas dua hal : untuk mengimbangi Komite Khilafat yang secara berangsur-angsur jatuh ke tangan golongan pembaharu; kedua untuk berseru kepada Ibnu Sa’ud, penguasa baru di Jazirah Arab, agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan. Kharisma KH. Hasjim Asj’ari menjadikan motivasi bagi murid-muridnya dan gagasan tersebut mendapat dukungan yang luas dari para ulama dan pengikutnya. Tujuan lainnya adalah untuk mempertahankan kepentingan kaum Muslimin tradisional (M.C.Riclefs, 1995 : 270)
Penulis Produktif dan Arah Pemikirannya
KH. Hasyim Asy’ari juga merupakan sosok pengarang produktif yang telah menghasilkan banyak karya dalam bentuk buku. Ia banyak menulis dalam bahasa Arab, sebagian besar membahas tentang Tasawuf, Fiqih, hadis dan ilmu agama lainnya yang masih banyak digunakan di pesantren-pesantren hingga saat ini.
Tulisan-tulisan KH. Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam buku-buku maupun surat, sekaligus menggambarkan konsep-konsep pemikirannya. Secara garis besar pemikiran KH. Hasyim Asy’ari terbagi dalam beberapa bidang, yaitu pemikirannya tentang konsep Ahlus Sunnah Waljamaah, Teologi (Tauhid), Sufisme (Tasawuf), Fiqih (yang membahas tentang ijtihad dan taklid, serta fiqh siasah atau politik).
Sementara itu, dalam masalah politik, gagasan KH. Hasyim Asy’ari mengikuti ajaran politik sunni tradisional, sebagaimana dikembangkan para pemikir Al-Mawardi dan Imam al-Ghazali. Pada dasarnya ajaran ini sangat akomodatif terhadap para pemegang kekuasaan. Konsep seperti ini dikembangkan pada saat dunia islam sedang mengalami kemunduran. Tentu saja kemunduran sosio politik ini akhirnya menimbulkan kepercayaan orang Islam berada pada posisi yang lemah dan harus mendasarkan kesetiaannya pada para penguasa.
Ketegasan doktrin politik KH. Hasyim Asy’ari yang sangat penting adalah seruannya kepada seluruh umat Islam untuk bersatu dalam sebuah pergerakan rakyat. Seruan ini merupakan esensi aksi politiknya yang ditampakkan di Indonesia pada masa itu. Pada sebuah pidatonya, al-Mawaiz (nasehat), yang disampaikan pada 1936 dalam kongres NU ke-11 di Banjarmasin, KH. Hasyim Asy’ari mencoba merekonsoliasi konflik yang terjadi antara Islam modernis dan tradisional, pada saat konflik antara dua komunitas tersebut mencapai puncaknya.
Di akhir-akhir kehidupannya, KH. Hasyim Asy’ari masih berperan penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Pada 1946, ketika umat Islam mendirikan partai politik Masyumi, KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi Rais ‘Aam. Jabatan ini hanya dijalani selama tidak lebih dari satu tahun, karena pada tahun 1947, ulama pejuang pergi untuk selama-lamanya. Beliau meninggal dunia pada usia 79 tahun, di desanya Tebuireng, Jombang. Ia menghadap Ilahi saat situasi politik Indonesia tengah memanas, di tengah-tengah berlangsungnya pertempuran antara laskar-laskar Hizbullah, Sabilillah dan Laskar Mujahidin melawan tentara Belanda yang hendak kembali menjajah Indonesia. Kepergiannya sempat mengguncangkan bangsa Indonesia. Lautan manusia memenuhi jalanan sepanjang jalan mengantarkan jenazahnya menuju peristirahatannya yang terakhir.
Jasa dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari diakui bangsa Indonesia secara resmi. Beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui keputusann Presiden No.294/1964. Pemberian gelar Pahlawan Nasional itu didasarkan atas jasa-jasanya pada pemerintah dan bangsa Indonesia selama perang kemerdekaan dan sesudahnya. Diantaranya adalah jasanya pada 1945-1947 dengan mengeluarkan dua fatwa yang sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Kedua fatwa itu adalah, pertama, perang melawan Belanda adalah perang suci (jihad). Kedua, melarang kaum Muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. Fatwa tersebut, terutama tentang perang suci melawan Belanda sangat berhasil, disebabkan pengaruhnya yang luar biasa terhadap kalangan umat Islam, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Kholid O Santosa, 2007 : 28)
Keberhasilan KH. Hasyim Asy’ari dalam mencetak dan melahirkan murid-muridnya yang menjadi Kiai besar di Indonesia, merupakan ciri khas dari hasil perjuangannya dan hal ini agak sulit mencari figur lain seperti KH. Hasyim Asy’ari di Indonesia ini.






Comments